Dalam tradisi masyarakat Bali, masa ibu nifas bukan sekadar fase pemulihan fisik setelah melahirkan, tetapi juga dipandang sebagai masa penyucian lahir dan batin bagi ibu, bayi, serta keluarga. Berdasarkan kearifan lokal yang tertuang dalam berbagai lontar, proses ini dimulai jauh sebelum bayi menghirup udara pertama di dunia. Menurut ajaran lontar Kandepat Dewa, Kandepat Sari, dan Kandepat Buta, proses lahirnya seorang bayi dimulai dari pertemuan kama bang dan kame petak yang dipersatukan oleh Kama ratih. Dalam konteks adat dan spiritual Bali, rangkaian awal penyucian ini dikenal dengan upacara tutug kambuhan yang juga dikenal sebagai Abulan Pitung Dina.
Secara medis, masa Ibu nifas adalah periode pemulihan organ reproduksi ibu setelah persalinan yang berlangsung sekitar 42 hari. Menariknya, konsep ini selaras dengan tradisi Bali yang mengenal hitungan Abulan pitung dina (satu bulan tujuh hari), yakni 35 + 7 hari atau sekitar 42 hari. Dalam masyarakat Bali, selama masa ini ibu dan bayi dianggap masih berada dalam kondisi rentan secara sekala (fisik) maupun niskala (spiritual). Tradisi ini menunjukkan bahwa leluhur Bali telah memiliki pemahaman holistik mengenai pentingnya pemulihan pasca persalinan, bahkan jauh sebelum konsep kesehatan modern berkembang.
Jika ditinjau secara ilmiah,
banyak nilai dalam tradisi masa nifas Bali yang memiliki manfaat kesehatan,
antara lain: memberi waktu istirahat cukup bagi ibu, memperkuat ikatan ibu dan
bayi, menjaga stabilitas emosional pasca melahirkan, serta mengurangi risiko
infeksi dan kelelahan. Kearifan lokal ini menunjukkan bahwa adat Bali tidak
hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga mengandung pemahaman kesehatan
masyarakat yang kuat.
Jadi, Masa Nifas dalam Perspektif
Abulan Pitung Dina, bahwa masyarakat Bali memandang masa nifas bukan sekadar
proses pemulihan medis setelah melahirkan, tetapi sebagai fase penting yang
menyatukan aspek fisik, psikologis, sosial, budaya, dan spiritual.
Adi Parmadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar