JEMBRANA – Suasana kantor Desa
Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Selasa (30/6), dipenuhi puluhan Tenaga Pendamping
Profesional (TPP) Kabupaten Jembrana. Seluruh pendamping desa berkumpul dalam
Rapat Koordinasi (Rakor) Kabupaten sebagai upaya menyamakan persepsi sekaligus
memperkuat kualitas pendampingan desa menghadapi berbagai agenda strategis
tahun 2026.
Rakor yang dipusatkan di Desa
Gumbrih ini dibuka secara resmi oleh Perbekel Desa Gumbrih, Nyoman Adi Rosadi.
Dalam sambutannya, ia mengapresiasi dipilihnya Desa Gumbrih sebagai lokasi
pelaksanaan rakor dan berharap sinergi antara pemerintah desa dengan para
pendamping terus terjalin demi mewujudkan pembangunan desa yang semakin
berkualitas. Usai pembukaan, Koordinator Kabupaten (Korkab) TPP Jembrana,
Priyono, memberikan arahan kepada seluruh peserta. Ia menekankan pentingnya
soliditas tim pendamping serta ketepatan dalam mendampingi pemerintah desa,
terutama menghadapi berbagai regulasi baru dan target pelaporan yang semakin
berbasis data.
Materi utama kemudian disampaikan
oleh Adi Parmadi selaku TAPM Provinsi Bali. Dalam paparannya, peserta diajak
memahami penyusunan RKPDes berdasarkan Permendes Nomor 13 Tahun 2025 yang kini
menjadi pedoman terbaru dalam proses perencanaan pembangunan desa. Tak hanya
itu, Adi juga mengulas kebutuhan data Triwulan II untuk KSP serta berbagai
aspek yang menjadi perhatian dalam audit kinerja TPP. Diskusi berlangsung cukup
dinamis. Berbagai persoalan yang dihadapi pendamping di lapangan dibahas
bersama hingga peserta memperoleh pemahaman yang lebih utuh.
Setelah seluruh materi dipahami,
kegiatan dilanjutkan dengan simulasi update kegiatan sarpras dan non sarpras
melalui aplikasi input kegiatan Dana
Desa Tahun 2026 berbasis Google Spreadsheet. Aplikasi yang dikembangkan
tersebut dirancang untuk mempermudah pendamping dalam melakukan pencatatan
kegiatan Dana Desa secara cepat, akurat, dan tersaji secara realtime.
Memasuki sesi siang, pembahasan
berlanjut dengan materi mengenai pendataan sosbud, eHDW, Indeks Desa, SDGs
Desa, hingga penguatan publikasi dan media sosial sebagai bagian dari
dokumentasi pendampingan desa. Namun, rakor kali ini menyisakan kisah yang
cukup mengundang rasa heran. Saat hendak memulai paparan aplikasi, hampir
seluruh aplikasi yang akan ditampilkan Adi Parmadi tiba-tiba mengalami
gangguan. Mulai dari aplikasi utama seperti SID, Indek Desa, EHDW, SDGs dan WA hingga sistem absensi media sosial yang
sebelumnya telah dibagikan kepada peserta, semuanya mendadak tidak dapat
dibuka. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari memeriksa jaringan internet hingga
melakukan penyegaran sistem. Hasilnya tetap nihil. Akhirnya, Adi parmadi terpaksa
meminjam laptop salah seorang Tenaga Ahli Kabupaten untuk memastikan materi
tetap dapat berjalan tanpa menghambat jalannya rakor.
Yang menarik, setelah sesi
istirahat siang usai, seluruh aplikasi yang sebelumnya "mogok"
mendadak kembali normal. Bahkan semuanya dapat dibuka menggunakan laptop milik
Adi sendiri tanpa kendala sedikit pun. Ada apa dengan tempat ini..?
Percaya atau tidak, kejadian
tersebut menjadi cerita penutup yang menghangatkan suasana Rakor TPP Jembrana.
Terlepas dari "drama" teknologi yang sempat terjadi, seluruh agenda
rakor berhasil dituntaskan dengan baik. Para peserta pun pulang membawa bekal
pengetahuan baru, mulai dari implementasi Permendes Nomor 13 Tahun 2025 hingga
pemanfaatan aplikasi digital yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas
pendampingan dan pelaporan Dana Desa secara lebih cepat, akurat, dan transparan
di seluruh desa.
Adi Parmadi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar