Budaya
Bali berdiri di atas tiga pilar utama, yaitu:
-
Pertama,
jiwanya adalah Agama Hindu
-
Kedua,
pijakan budayanya adalah tanah Bali
-
Ketiga,
penjaga sekaligus pelakunya adalah manusia Bali
Hari
ini, ketiga pilar tersebut sedang menghadapi tantangan.
Fenomena
pertama adalah alih fungsi lahan yang berlangsung begitu cepat. Tanah
yang selama ini menjadi ruang hidup budaya perlahan berubah fungsi. Padahal
tanpa ruang budaya, warisan leluhur akan kehilangan tempat untuk tumbuh dan
diwariskan.
Fenomena
kedua adalah belum optimalnya penghargaan kepada manusia Bali sebagai
penjaga budaya.
Ketika
masyarakat Bali melaksanakan hari raya, ngayah, dan berbagai upacara adat,
sering kali hal itu dipandang hanya sebagai "hari libur".
Padahal sesungguhnya itu bukan sekadar libur. Itu adalah investasi budaya.
Orang
Bali mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya untuk menjaga tradisi
yang selama ratusan tahun menjadi identitas Pulau Bali. Apa yang mereka lakukan
bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga menjaga daya tarik Bali yang
dinikmati oleh dunia. Karena sesungguhnya, wisatawan datang ke Bali bukan hanya
melihat pantai atau gunung. Banyak tempat di dunia memiliki keindahan alam yang
serupa.
Yang
membuat Bali berbeda adalah budayanya. Alam Bali menjadi istimewa karena
memiliki jiwa, dan jiwa itu hidup melalui masyarakat Bali yang terus
menjalankan nilai-nilai Agama Hindu, adat, seni, dan tradisi.
Oleh
karena itu, sudah saatnya kita memandang waktu yang digunakan masyarakat Bali
untuk menjalankan kewajiban adat dan keagamaan sebagai investasi budaya,
bukan sekadar hari libur yang seharusnya dihargai dari persepektif ekonomi,
Investasi inilah yang menjaga Bali tetap memiliki identitas, martabat, dan daya
saing di mata dunia.
Jika
tanah Bali terus kehilangan fungsinya sebagai pijakan budaya , manusia Bali
tidak lagi dihargai sebagai penjaga budaya, dan pemahaman terhadap ajaran Hindu
semakin timpang antara Upacara, Tatwa dan Susila maka bali akan kehilangan jiwanya.
Bali
akan tetap hidup ada jika tiga pilarnya
tetap kokoh: Agama Hindu yang dipahami secara utuh sehingga menjadi jiwa dari
budaya, tanah yang dijaga sebagai ruang budaya, dan manusia Bali yang dihormati
dan dihargai sebagai penjaga peradaban.
Menjaga budaya adalah investasi untuk masa depan Bali.







