Media Informasi Tenaga Pendamping Profesional Provinsi Bali

Rabu, 29 Juli 2026

Lomba Desa Berkinerja Baik 2026, 333 Desa di Bali Berpeluang Ikuti Lomba

 

Denpasar – Sehari setelah pelaksanaan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penilaian Desa Berkinerja Baik (DBB) dalam Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S) yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa (28/7/2026), Pemerintah Provinsi Bali langsung bergerak cepat melakukan persiapan awal menghadapi proses penilaian tahun 2026.

Rapat koordinasi perdana dilaksanakan pada Rabu (29/7/2026) di Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Bali. Pertemuan tersebut dihadiri unsur DPMD Provinsi Bali, Bappeda Provinsi Bali, Dinas Kesehatan Provinsi Bali, serta PIC Sosial Budaya (Sosbud) TAPM Provinsi Bali sebagai bagian dari tim pendukung pelaksanaan penilaian. Kegiatan dibuka oleh Ketut Merta, Kabid Penataan Penduduk dan Keluarga Berencana DPMD Provinsi Bali. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa rapat ini merupakan tindak lanjut langsung dari sosialisasi yang diselenggarakan pemerintah pusat sehari sebelumnya.

Menurut Ketut Merta, sebanyak 333 desa di Provinsi Bali telah direkomendasikan oleh pemerintah pusat untuk mengikuti Penilaian Desa Berkinerja Baik Tahun 2026. Jumlah tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Bali untuk kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat konvergensi percepatan penurunan stunting melalui tata kelola pemerintahan desa yang berkualitas. Ia juga mengingatkan agar pengalaman mengikuti penilaian pada tahun sebelumnya dijadikan bahan evaluasi sekaligus referensi dalam menyusun strategi tahun ini. Dengan persiapan yang lebih matang, koordinasi yang lebih kuat, dan dukungan seluruh pemangku kepentingan, Bali diharapkan mampu meraih hasil yang lebih baik pada tingkat nasional.

Suasana rapat berlangsung hangat dengan berbagai masukan dari peserta yang hadir. Berbagai aspek teknis maupun administratif dibahas secara mendalam untuk memastikan seluruh tahapan penilaian dapat dipersiapkan sejak dini. Dari hasil pembahasan, rapat menyepakati sejumlah langkah awal yang akan segera ditindaklanjuti, antara lain penyusunan Surat Keputusan Tim Penilai Desa Berkinerja Baik Provinsi Bali, penyusunan surat pemberitahuan kepada pemerintah kabupaten/kota, inventarisasi dokumen pendukung yang harus dipersiapkan, serta penjadwalan rapat koordinasi lanjutan guna mematangkan mekanisme pelaksanaan penilaian.

Langkah cepat yang dilakukan sehari setelah sosialisasi nasional ini menunjukkan keseriusan Pemerintah Provinsi Bali dalam mempersiapkan desa-desa terbaiknya. Melalui sinergi antara DPMD, Bappeda, Dinas Kesehatan, TPP Provinsi Bali, serta pemerintah kabupaten/kota, diharapkan proses seleksi Desa Berkinerja Baik Tahun 2026 dapat berjalan optimal dan menghasilkan wakil Bali yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Persiapan sejak awal menjadi kunci penting agar desa-desa yang telah direkomendasikan tidak hanya memenuhi persyaratan administrasi, tetapi juga mampu menunjukkan inovasi (praktik baik) dalam pelaksanaan konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting sebagai bagian dari upaya mewujudkan sumber daya manusia yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing.

Adi Parmadi

Lima PR Besar Desa dari Hasil Indeks Desa 2025: Energi Terbarukan hingga Layanan Kesehatan

Hasil Pendataan Indeks Desa (ID) Tahun 2025 menghadirkan pesan yang jelas bagi pemerintah pusat maupun pemerintah desa. Di balik meningkatnya status pembangunan desa di berbagai wilayah, masih terdapat sejumlah indikator yang menjadi pekerjaan rumah bersama. Lima indikator dengan nilai rata-rata terendah menunjukkan bahwa pembangunan desa ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus menyentuh aspek keberlanjutan, ekonomi lokal, ruang publik, hingga kualitas pelayanan dasar.

Berdasarkan hasil input Pendataan Indeks Desa 2025 terhadap 314 desa, indikator pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) menempati posisi paling rendah dengan skor rata-rata 1,2 dari skala 5. Angka tersebut mengindikasikan bahwa mayoritas desa belum memanfaatkan sumber energi ramah lingkungan seperti tenaga surya, biogas, mikrohidro, maupun biomassa dalam mendukung pelayanan publik maupun aktivitas ekonomi masyarakat. Padahal, transisi menuju energi bersih telah menjadi agenda nasional sekaligus bagian dari komitmen Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan. Desa memiliki peluang besar menjadi pelaku utama transformasi tersebut melalui pemanfaatan energi surya untuk kantor desa, penerangan jalan, irigasi pertanian, hingga fasilitas umum lainnya. Rendahnya capaian ini menunjukkan bahwa investasi desa pada sektor energi masih relatif terbatas.

Persoalan berikutnya adalah kepemilikan aset berupa pasar desa yang hanya memperoleh skor rata-rata 2,5. Temuan ini mencerminkan bahwa masih banyak desa yang belum memiliki pasar desa atau belum mampu mengoptimalkan aset pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Padahal, pasar desa memiliki peran strategis dalam memperkuat rantai pemasaran hasil pertanian, produk UMKM, maupun usaha yang dikelola BUM Desa. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pembangunan ekonomi desa masih membutuhkan penguatan dari sisi infrastruktur perdagangan sekaligus tata kelola aset desa agar mampu menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.

Sementara itu, indikator keberadaan ruang publik terbuka memperoleh skor rata-rata 2,8. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kualitas maupun ketersediaan ruang publik di banyak desa masih belum memadai. Ruang publik bukan sekadar taman atau lapangan, tetapi merupakan ruang interaksi sosial, kegiatan budaya, pendidikan masyarakat, hingga tempat penyelenggaraan aktivitas ekonomi kreatif. Desa yang memiliki ruang publik yang baik umumnya menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat yang lebih tinggi serta kehidupan sosial yang lebih dinamis. Karena itu, penyediaan ruang publik seharusnya menjadi bagian dari strategi pembangunan desa yang inklusif.

Nilai serupa juga diperoleh indikator ketersediaan fasilitas olahraga. Skor rata-rata 2,8 mengindikasikan bahwa sebagian desa masih menghadapi keterbatasan sarana olahraga atau kondisi fasilitas yang belum layak digunakan masyarakat. Padahal, keberadaan fasilitas olahraga memiliki dampak jangka panjang terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, pembinaan generasi muda, serta pencegahan berbagai penyakit tidak menular. Di banyak desa, lapangan olahraga juga berfungsi sebagai ruang berkumpul masyarakat yang memperkuat kohesi sosial.  

Indikator kelima yang masih memerlukan perhatian adalah operasional layanan tenaga kesehatan di desa, dengan skor rata-rata 2,8. Capaian tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan belum sepenuhnya optimal. Permasalahan bukan semata pada keberadaan tenaga kesehatan, tetapi juga pada keberlanjutan operasional pelayanan, ketersediaan jadwal layanan, serta jangkauan pelayanan kepada masyarakat. Padahal, pelayanan kesehatan merupakan fondasi utama pembangunan sumber daya manusia. Upaya percepatan penurunan stunting, peningkatan kesehatan ibu dan anak, serta pengendalian penyakit berbasis lingkungan sangat bergantung pada kualitas layanan kesehatan di tingkat desa.

Kelima indikator tersebut sesungguhnya saling berkaitan. Energi yang memadai mendukung pelayanan publik, pasar desa menggerakkan ekonomi lokal, ruang publik dan fasilitas olahraga meningkatkan kualitas hidup masyarakat, sementara layanan kesehatan menjadi penopang pembangunan manusia. Dengan kata lain, indikator-indikator yang masih rendah tersebut merupakan investasi sosial yang akan menentukan daya saing desa dalam jangka panjang.

Hasil Pendataan Indeks Desa 2025 semestinya tidak dipandang hanya sebagai angka statistik, melainkan sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan berbasis data. Pemerintah desa dapat menjadikan lima indikator tersebut sebagai prioritas dalam penyusunan RPJM Desa, RKP Desa, maupun pengalokasian Dana Desa sesuai ketentuan yang berlaku.

Ke depan, keberhasilan pembangunan desa tidak lagi diukur semata dari banyaknya infrastruktur yang dibangun. Desa yang maju adalah desa yang mampu menyediakan pelayanan publik yang berkualitas, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, memanfaatkan teknologi dan energi ramah lingkungan, serta menciptakan lingkungan hidup yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan. Itulah tantangan sekaligus arah baru pembangunan desa yang tercermin dari hasil Pendataan Indeks Desa 2025.

Adi Parmadi

Selasa, 28 Juli 2026

TPP Denpasar Digenjot Kuasai Pemutakhiran ID 2026, Akali Tanpa LCD Pakai Zoom

 


DENPASAR – Tim Pendamping Profesional (TPP) Kota Denpasar memantapkan kesiapan menghadapi tahapan Pemutakhiran Indeks Desa (ID) Tahun 2026. Melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) yang dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi (Rakor), seluruh pendamping dibekali pemahaman teknis agar mampu memfasilitasi desa melakukan pemutakhiran data secara benar dan tepat waktu.

Kegiatan yang berlangsung pada Senin (27/7/2026) di Sekretariat TPP Kota Denpasar itu diikuti seluruh TPP Kota Denpasar. Acara dibuka dengan pengarahan dari Koordinator Kota TPP Denpasar, Ketut Suardana, yang menekankan pentingnya peran pendamping dalam memastikan kualitas data ID 2026 di setiap desa.

Selanjutnya, Made Adi Parmadi selaku PIC Indeks Desa (ID) Provinsi Bali memberikan Bimtek mengenai mekanisme pemutakhiran data, mulai dari melihat progres input desa, memperbaiki data yang masih kosong, hingga memastikan seluruh isian telah sesuai sebelum diunggah kembali ke sistem.

Menariknya, keterbatasan sarana tidak menjadi penghalang jalannya pelatihan. Karena lokasi kegiatan tidak dilengkapi layar LCD, Adi Parmadi memanfaatkan fitur Zoom Meeting sebagai media presentasi. Layar Zoom kemudian diakses langsung melalui laptop maupun telepon genggam peserta sehingga materi tetap dapat diikuti dengan jelas.

"Kalau tidak ada rotan, akar pun jadi." Ungkapan itu terasa tepat menggambarkan kreativitas penyelenggara dalam menyiasati keterbatasan fasilitas tanpa mengurangi kualitas penyampaian materi.

Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa setelah terbitnya surat pelaksanaan pemutakhiran, seluruh desa wajib mengunduh kembali kuesioner dan template terbaru. Pengisian dilakukan secara offline menggunakan file Excel. Setelah seluruh isian mencapai 100 persen, dipastikan benar dan lengkap, barulah data diunggah kembali ke aplikasi.

Peserta juga dibimbing mengenai tahapan verifikasi di tingkat kecamatan hingga kabupaten/kota, sehingga proses validasi berjalan sesuai ketentuan.

Suasana Bimtek berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan dari peserta mewarnai sesi diskusi, mulai dari kendala teknis pengisian, proses unggah data, hingga mekanisme verifikasi. Seluruh pertanyaan dijawab secara rinci sehingga peserta memperoleh pemahaman yang sama dalam mendampingi desa.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh TPP Kota Denpasar semakin siap memberikan pendampingan kepada pemerintah desa selama proses Pemutakhiran ID 2026. Mengingat batas akhir pemutakhiran ditetapkan pada 10 Agustus 2026, pendamping diharapkan mampu memastikan setiap desa menyelesaikan proses pembaruan data secara akurat, lengkap, dan tepat waktu sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan desa yang lebih berkualitas

Adi Parmadi

Minggu, 26 Juli 2026

PEMUTAKHIRAN/PENDATAAN INDEKS DESA 2026


WAJIB UPDATE..!!. Semua Data ID 2026 Harus Dimutakhirkan Meski Progres Sudah 100% setelah terbitnya surat pelaksanaan pemutakhiran data ID 26.

Sabtu, 25 Juli 2026

Senin, 20 Juli 2026

Final Piala Dunia FIFA 2026, Pertama Kali hadirkan konsep hiburan


Senin, 20 Juli 2026, Final Piala Dunia FIFA 2026 antara Argentina dan Spanyol menyajikan pertandingan berkelas dunia yang berlangsung dengan tensi tinggi. Kedua tim tampil disiplin dan saling menekan sejak menit awal, membuat jutaan pasang mata di seluruh dunia terpaku menyaksikan duel dua raksasa sepak bola tersebut.

Namun, yang membedakan final kali ini dengan edisi-edisi sebelumnya adalah hadirnya pertunjukan musik pada jeda pertandingan (halftime show). Untuk pertama kalinya dalam sejarah final Piala Dunia, FIFA menghadirkan konsep hiburan layaknya Super Bowl dengan penampilan deretan bintang dunia seperti Shakira, Madonna, Justin Bieber, dan BTS.

Penampilan para musisi internasional tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi penonton di stadion maupun di layar televisi, tetapi juga berperan sebagai penurun tensi setelah 45 menit pertama yang berlangsung sengit. Musik, dan koreografi spektakuler memberikan suasana yang lebih rileks sehingga penonton dapat menikmati jeda pertandingan sebelum kembali menyaksikan babak kedua yang penuh drama.

Final Piala Dunia 2026 pun menjadi tonggak sejarah baru. Selain menyajikan duel bergengsi antara Argentina dan Spanyol, pertandingan ini menunjukkan bagaimana olahraga dan musik dapat berpadu menciptakan pengalaman yang menghibur sekaligus mengurangi ketegangan jutaan penonton di seluruh dunia.

Bravo Spanyol 1: 0 atas Argentina


Adi Parmadi

Minggu, 19 Juli 2026

Sampai Kapan Bali Itu Ada?


Banyak orang mengira Bali menjadi destinasi dunia karena pantainya yang indah atau alamnya yang memesona. Padahal bukan itu kekuatan utamanya. Alam Bali memiliki jiwa. Dan jiwa itu adalah budaya Bali.

Budaya Bali berdiri di atas tiga pilar utama, yaitu:

-         Pertama, jiwanya adalah Agama Hindu

-         Kedua, pijakan budayanya adalah tanah Bali

-         Ketiga, penjaga sekaligus pelakunya adalah manusia Bali

Hari ini, ketiga pilar tersebut sedang menghadapi tantangan.

Fenomena pertama adalah alih fungsi lahan yang berlangsung begitu cepat. Tanah yang selama ini menjadi ruang hidup budaya perlahan berubah fungsi. Padahal tanpa ruang budaya, warisan leluhur akan kehilangan tempat untuk tumbuh dan diwariskan.

Fenomena kedua adalah belum optimalnya penghargaan kepada manusia Bali sebagai penjaga budaya.

Ketika masyarakat Bali melaksanakan hari raya, ngayah, dan berbagai upacara adat, sering kali hal itu dipandang hanya sebagai "hari libur". Padahal sesungguhnya itu bukan sekadar libur. Itu adalah investasi budaya.

Orang Bali mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya untuk menjaga tradisi yang selama ratusan tahun menjadi identitas Pulau Bali. Apa yang mereka lakukan bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga menjaga daya tarik Bali yang dinikmati oleh dunia. Karena sesungguhnya, wisatawan datang ke Bali bukan hanya melihat pantai atau gunung. Banyak tempat di dunia memiliki keindahan alam yang serupa.

Yang membuat Bali berbeda adalah budayanya. Alam Bali menjadi istimewa karena memiliki jiwa, dan jiwa itu hidup melalui masyarakat Bali yang terus menjalankan nilai-nilai Agama Hindu, adat, seni, dan tradisi.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita memandang waktu yang digunakan masyarakat Bali untuk menjalankan kewajiban adat dan keagamaan sebagai investasi budaya, bukan sekadar hari libur yang seharusnya dihargai dari persepektif ekonomi, Investasi inilah yang menjaga Bali tetap memiliki identitas, martabat, dan daya saing di mata dunia.

Jika tanah Bali terus kehilangan fungsinya sebagai pijakan budaya , manusia Bali tidak lagi dihargai sebagai penjaga budaya, dan pemahaman terhadap ajaran Hindu semakin timpang antara Upacara, Tatwa dan Susila  maka bali akan kehilangan jiwanya.

Bali akan tetap hidup ada  jika tiga pilarnya tetap kokoh: Agama Hindu yang dipahami secara utuh sehingga menjadi jiwa dari budaya, tanah yang dijaga sebagai ruang budaya, dan manusia Bali yang dihormati dan dihargai  sebagai penjaga peradaban. Menjaga budaya adalah investasi untuk masa depan Bali.

Menjaga kedaulatan budaya Bali menjadi pekerjaan rumah dari pemimpin Bali, bukan melalui seremonial, pementasan tetapi menjadikan orang bali sebagai manusia Tri Hita Karana, bahagia  karena bisa hidup harmonis dengan Tuhan dan lingkungannya. 


kadek Suardika
Korprop Bali


Lomba Desa Berkinerja Baik 2026, 333 Desa di Bali Berpeluang Ikuti Lomba

  Denpasar – Sehari setelah pelaksanaan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penilaian Desa Berkinerja Baik (DBB) dalam Konvergensi Pen...