NEGARA – Data yang akurat adalah
fondasi pembangunan yang tepat sasaran. Dengan keyakinan itu, Kecamatan Negara
mengumpulkan admin desa dan enumerator dari delapan desa dalam Bimbingan Teknis
(Bimtek) SDGs Desa, Kamis (22/10/2026), di Aula Rapat Camat Negara, Kabupaten
Jembrana.
Bimtek dibuka oleh Plt. Kepala
Dinas PMD, PPPA, dan PPKB Kabupaten Jembrana, Putu Suarnita. Ditegaskan pentingnya data yang akurat sehingga menghasilkan rekomendasi yang dapat digunakan dalam menyusun Rencana Jangka Menengah SDGs Desa bagi perbekel baru dalam menyusuan RPJMDes sesuai visi dan misi Perbekel. Sedangkan Camat Negara, Gede
Wariyana Prabawa, memberikan pengarahan kepada peserta agar apa yang diperoleh dalam bimtek dapat diaplikasikan dilapangan dan disampaikan juga kecamatan Negara sebagai kecamatan pertama melakukan bimtek di kabupaten Jembrana. . Hadir pula
Tenaga Profesional Pendamping (TPP) Kabupaten Jembrana. Mereka mendampingi
kegiatan sejak tahap persiapan hingga bimtek terlaksana.
Pemateri tunggal dalam bimtek ini
adalah PIC SDGs Provinsi Bali, I Made Adi Parmadi. Ia mengawali paparan dengan
landasan regulasi terbaru, yakni Peraturan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah
Tertinggal (Permendes PDT) Nomor 13 Tahun 2025 tentang Sistem Informasi Desa.
Aturan ini menggantikan Permendes PDT Nomor 21 Tahun 2020 beserta perubahannya,
yang dinyatakan tidak berlaku lagi. Pendataan desa dilaksanakan dalam dua
tahap, yaitu tahap awal dan tahap pemutakhiran. Hasil pendataan tahap awal
menjadi data dasar pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Data
dasar tersebut wajib dimutakhirkan setiap enam bulan. Tanggung jawabnya berada
di tangan kepala desa, dengan pelaksanaan oleh staf pendataan desa di bawah
koordinasi sekretaris desa.
Adi Parmadi menjelaskan ada tiga
peran kunci dalam melakukan pendataan dan pemutakhran. Admin desa bertugas
menambah akun enumerator dan admin validator, memantau data, serta mengunduh
hasil input kuesioner. Enumerator bekerja di garis depan, yakni menginput data
baru dan mengedit data yang perlu diperbarui. Admin validator menjadi penjaga
mutu, dengan kewenangan memberi izin edit serta memvalidasi hasil perubahan
sebelum data dinyatakan sah. Alur kerja ini dipaparkan runtut, mulai dari input
kuesioner individu dan pemutakhiran atau edit data hingga validasi. Peserta
juga memperoleh gambaran perbandingan skor SDGs Desa di tingkat Kabupaten
Jembrana dan Kecamatan Negara. Selain itu, mereka diperkenalkan pada fitur
rekomendasi program yang dapat diakses melalui laman sid.kemendesa.go.id.
Setelah pemaparan, peserta
langsung mempraktikkan alur kerja tersebut dalam sesi simulasi. Sesi dilanjutkan
dengan diskusi yang membahas dua hal utama: strategi meningkatkan skor SDGs
desa, serta kendala yang dihadapi desa dalam pendataan dan pemutakhiran.
Peserta menyampaikan persoalan yang mereka temui di lapangan, lalu memperoleh
masukan dan solusi dari narasumber.
Kegiatan ditutup dengan penegasan
Sekretaris Camat Negara. Ia berharap materi dan pengalaman selama bimtek
benar-benar meningkatkan pemahaman peserta. Pemahaman itu diharapkan berujung
pada hasil pendataan dan pemutakhiran SDGs desa yang lebih baik di setiap desa.
Bagi delapan desa di Kecamatan
Negara, bimtek ini menjadi bekal penting. Data yang dihimpun dengan benar dan
diperbarui secara berkala akan menjadi pijakan perencanaan pembangunan desa ke
depan.
Adi Parmadi









