Stunting bukan sekadar persoalan
kesehatan, tetapi menyangkut masa depan kualitas sumber daya manusia desa. Anak
yang tumbuh tidak optimal hari ini akan menghadapi tantangan besar di masa
depan—baik dalam pendidikan, produktivitas, maupun daya saing. Karena itu,
meski Dana Desa menurun, tanggung jawab desa terhadap pencegahan stunting tidak
boleh surut.
Keterbatasan anggaran seharusnya
mendorong desa lebih cermat dan tepat sasaran. Intervensi stunting tidak selalu
membutuhkan biaya besar. Penguatan Posyandu, pendampingan ibu hamil, pemantauan
balita berisiko, edukasi gizi keluarga, serta perbaikan perilaku hidup bersih
dan sehat dapat dilakukan melalui optimalisasi kader dan kolaborasi lintas sektor.
Data menjadi kunci utama. Dengan
pemanfaatan data keluarga berisiko stunting secara by name by address, desa
dapat mengarahkan bantuan dan layanan secara lebih efektif. Setiap rupiah Dana
Desa digunakan untuk keluarga yang benar-benar membutuhkan, sehingga efisiensi
anggaran tetap berjalan tanpa mengorbankan tujuan pembangunan manusia.
Di banyak desa, keterbatasan
anggaran justru melahirkan inovasi. Gerakan jemput layanan kesehatan, dapur
sehat berbasis pangan lokal, serta sinergi desa dengan Puskesmas, PKK, dan
unsur masyarakat menjadi contoh bahwa upaya penurunan stunting dapat terus
berjalan dengan biaya yang terukur namun berdampak nyata.
Dana Desa 2026 boleh menurun,
tetapi keberpihakan desa kepada anak-anak tidak boleh berkurang. Desa adalah garda
terdepan pembangunan manusia. Dalam kondisi apa pun, memastikan anak-anak
tumbuh sehat, cerdas, dan bebas stunting adalah investasi jangka panjang yang
nilainya jauh melampaui angka dalam APBDes.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar