BADUNG —
Inovasi sederhana yang berangkat dari persoalan nyata di tengah masyarakat
mengantarkan Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, meraih
predikat Juara I Desa Berkinerja Baik
(DBB) dalam Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S)
Tingkat Provinsi Bali Tahun 2026.
Kunci
keberhasilan Desa Dalung terletak pada inovasi Si Bening Gadis Dalung, kepanjangan dari Sistem Informasi Bebas Stunting Gerakan Dapur Inovatif Sehatkan Anak di
Desa Dalung. Inovasi ini tidak sekadar mengandalkan aplikasi atau
pendataan. Si Bening Gadis Dalung menggabungkan kekuatan data, pemantauan
balita, edukasi keluarga hingga penyediaan makanan tambahan bergizi melalui
Gerakan Dapur Inovatif Sehatkan Anak di Desa Dalung (Gadis Dalung). Konsep
tersebut menjadi salah satu kekuatan Desa Dalung ketika harus bersaing dengan
desa-desa terbaik lainnya dalam penilaian DBB P3S Provinsi Bali 2026.
Berdasarkan
hasil penilaian dan verifikasi Tim Verifikasi dan Validasi Tingkat Provinsi
Bali, tiga desa ditetapkan sebagai nominasi terbaik, yakni Desa Dalung Kabupaten Badung, Desa
Padangsambian Kelod Kota Denpasar, dan Desa Pitra Kabupaten Tabanan. Penilaian
dilakukan melalui aspek administratif yang mencakup enam variabel penilaian, serta pendalaman terhadap inovasi yang
dikembangkan masing-masing desa. Hasil akhirnya menempatkan Desa Dalung sebagai peringkat pertama,
disusul Desa Padangsambian Kelod
sebagai peringkat kedua, dan Desa
Pitra Kabupaten Tabanan sebagai peringkat ketiga. Penetapan tersebut
dituangkan dalam Keputusan Gubernur
Bali Nomor 821/02-D/HK/2026 tentang Desa Berkinerja Baik dalam
Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2026.
Berawal dari Masalah di Posyandu
Keberhasilan
Dalung tidak lahir secara tiba-tiba. Inovasi Si Bening Gadis Dalung dibangun
dari persoalan yang ditemukan di lapangan. Inovasi Desa Dalung mencatat,
kehadiran balita ke Posyandu sebelumnya belum optimal. Mobilitas penduduk yang
tinggi, kesibukan orang tua bekerja, pemahaman mengenai manfaat Posyandu yang
belum merata, serta terbatasnya komunikasi antara kader dan orang tua balita
menjadi sejumlah tantangan.
Di
sisi lain, deteksi dini terhadap risiko calon pengantin, ibu hamil dan balita
juga belum optimal. Kondisi tersebut menyebabkan sasaran yang berisiko belum selalu
mendapatkan penanganan secara tepat dan cepat. Bahkan, dari 621 balita yang ada
di Desa Dalung, sebanyak 15 balita terdeteksi mengalami stunting atau sekitar
2,4 persen. Persoalan lainnya adalah keterlambatan pendataan dan pelaporan
sasaran balita kepada Puskesmas. Dari sinilah Desa Dalung membangun pendekatan
baru. Bukan hanya mengejar angka kehadiran di Posyandu, tetapi memastikan data
sasaran bergerak menjadi dasar tindakan.
Data Bertemu Dapur
Si
Bening menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Gadis Dalung. Melalui Si
Bening, Desa Dalung memanfaatkan teknologi sederhana berupa Google Form dan WhatsApp Group untuk
melakukan pendataan dan pemantauan sasaran Posyandu. Data tersebut kemudian
menjadi bahan untuk pendampingan, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE),
dokumentasi hingga evaluasi.
Sementara
Gadis Dalung bergerak di sisi intervensi pangan. Gerakan ini mengembangkan menu
kreatif, bergizi dan ekonomis dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Keluarga
juga diberikan pelatihan untuk menyiapkan makanan bergizi seimbang bagi balita.
Dengan kata lain, Si Bening membaca
datanya, Gadis Dalung bergerak di dapurnya. Keduanya diperkuat melalui
kolaborasi dengan kelompok DASHAT atau Dapur Sehat Atasi Stunting. Kelompok
DASHAT mengolah menu kreatif menjadi makanan tambahan (PMT), sementara Kebun
Ketahanan Pangan Desa Dalung menjadi salah satu sumber bahan pangan berbasis
lokal. BUM Desa Tri Manunggal Jaya Dalung berperan sebagai mitra utama dalam
pendistribusian PMT. Kolaborasi juga melibatkan masyarakat, kader Posyandu,
TPK, KPM, tenaga kesehatan Puskesmas Kuta Utara serta kerja sama dengan Bina
Usada Bali dan STIKES Bali.
Bukan Sekadar Inovasi di Atas
Kertas
Yang
membuat inovasi Dalung menarik adalah orientasinya pada perubahan perilaku dan
layanan. Tujuan yang dibangun cukup jelas: meningkatkan cakupan D/S, mencegah
kasus stunting baru, memastikan pelayanan Posyandu tepat sasaran, serta
menjadikan data sasaran Posyandu sebagai dasar perencanaan program pemerintah
desa.
Dampaknya
pun mulai terlihat, Desa Dalung mencatat kehadiran balita ke Posyandu serta
hasil pendataan dan pelaporan sasaran balita kepada Puskesmas meningkat hingga 100 persen pada 2025. Selain itu,
pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam menyiapkan makanan bergizi juga
meningkat. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa inovasi desa tidak harus selalu
identik dengan teknologi yang rumit. Kadang, inovasi justru lahir dari
kemampuan desa membaca persoalan sehari-hari, menghubungkan data dengan
tindakan, kemudian menggerakkan masyarakat untuk bekerja bersama.
Dalung Buktikan Kinerja Desa
Dimulai dari Masalah
Predikat
Juara I DBB P3S Provinsi Bali 2026 akhirnya menjadi pengakuan terhadap proses
tersebut. Desa Dalung berhasil menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting
bukan hanya pekerjaan sektor kesehatan. Ada data, Posyandu, kader, keluarga,
pangan lokal, BUM Desa, pemerintah desa hingga tenaga kesehatan yang harus
bergerak dalam satu irama.
Si Bening Gadis Dalung pada akhirnya bukan hanya sebuah nama inovasi. Ia menjadi gambaran bagaimana sebuah desa mengubah data menjadi tindakan, dapur menjadi ruang intervensi gizi, dan kolaborasi menjadi kekuatan untuk mencegah stunting. Dari Dalung, pesan itu sederhana: ketika desa mampu membaca masalahnya sendiri dan bergerak bersama, kinerja bukan lagi sekadar angka penilaian, tetapi menjadi perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat
Adi Parmadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar