Dimata Orang Luar Bali sering diplesetkan banyak libur
Di Bali, libur bukan sekadar jeda
waktu—ia adalah cara hidup yang mendalam, sebuah tarian antara, budaya tradisi
dan modernitas.
Lbur orang Bali sebenarnya dia
sedang bekerja dengan sepenuh hati—merawat tradisi, menghidupkan ritual, dan
menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Libur bukanlah lelah untuk
bersenang-senang, melainkan waktu sakral untuk meneguhkan identitas, mempererat
jalinan budaya, dan mengalirkan semangat kehidupan yang tak pernah padam.
Orang Bali sebenarnya libur untuk
bekerja sebagai penjaga tradisi, agar orang lain bisa bekerja di Bali. Bali
seperti sekarang bisa memberikan devisa terbesar lebih dari 50% pada negara karena kerja-kerja pekerja
tradisi. Tapi orang luar khususnya investor justru hasil kerja penjaga tradisi
dijadikan alat penghasil uang.
Ketika penjaga tradisi tidak
bekerja, Bali akan menjadi Bali-balian, Bali KW, Bali sudah tidak ada, tidak
memiliki daya tarik.
Seharusnya kerja-kerja penjaga
tradisi harus dijadikan komponen ekonomi yang harus dihargai wujud dari
rekognisi.
Bali tetap ada ketika budaya bali
tetap dijiwai agama Hindu, ada manusia sebagai penjaga tradisi dan ada tanah sebagai
tegakan, pijakan budaya.
Penulis
Jro Kadek Suardika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar