Upaya percepatan penanganan stunting
di tingkat desa melalui kolaborasi antara Kader Pembangunan Manusia (KPM)
dengan sistem pemantauan berbasis aplikasi eHDW (electronic Human Development
Worker) dan kearifan lokal bali, merupakan
perpaduan harmonis mengawal kehidupan manusia mulai dari dalam kandungan.
Di lapangan, KPM berperan aktif
melakukan pendataan, pemantauan, sekaligus edukasi kepada sasaran prioritas,
mulai dari ibu hamil hingga balita usia 59 bulan. Setiap perkembangan dicatat
dalam aplikasi eHDW, yang kemudian dipantau secara berjenjang oleh admin di
tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Dengan sistem ini, tidak
hanya memastikan data lebih akurat, tetapi juga mempercepat intervensi ketika
ditemukan risiko stunting.
Pelaksanaan kegiatan ini berlangsung di
tingkat desa sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat, dengan dukungan penuh
sistem digital yang terintegrasi lintas wilayah. Pemantauan dilakukan secara
berkelanjutan, mengikuti tahapan penting dalam siklus kehidupan masyarakat Bali
yang terangkum dalam rangkaian upacara Manusa Yadnya.
Pada masa kehamilan, tepatnya usia 5
hingga 7 bulan, masyarakat Bali melaksanakan upacara magedong-gedongan.
Momentum ini dimanfaatkan KPM untuk memastikan ibu hamil telah terdata, mendapatkan
asupan gizi yang cukup, serta rutin memeriksakan kehamilannya ke fasilitas
kesehatan.
Memasuki fase kelahiran hingga 12 hari
pertama, yang dikenal dengan kepus puser dan tutug kambuhan, KPM melakukan
pemantauan intensif terhadap kondisi bayi, termasuk berat badan lahir,
pelaksanaan inisiasi menyusu dini (IMD), serta pemberian ASI eksklusif. Selanjutnya, pada usia 42 hari melalui
upacara ngelepas hawon, KPM kembali menguatkan edukasi kepada keluarga terkait
pola asuh dan pemenuhan gizi bayi. Pemantauan berlanjut saat bayi memasuki usia
tiga bulan Bali atau 105 hari melalui upacara tiga bulanan, di mana pengukuran
tumbuh kembang dilakukan untuk mendeteksi dini potensi stunting. Puncaknya,
saat bayi berusia 6 bulan atau 210 hari yang ditandai dengan otonan pertama,
KPM melakukan evaluasi status gizi sekaligus mendampingi keluarga dalam
pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat. Seluruh proses ini
tercatat dalam eHDW dan dapat dipantau secara real time oleh berbagai
tingkatan, sehingga langkah penanganan dapat segera dilakukan jika ditemukan
indikasi risiko.
Pendekatan ini menjadi bukti bahwa penanganan stunting tidak hanya soal intervensi kesehatan, tetapi juga tentang bagaimana mengintegrasikan budaya sebagai kekuatan sosial. Dengan menggabungkan peran KPM, dukungan sistem eHDW, serta nilai-nilai luhur upacara manusa yadnya dalam tradisi Hindu Bali
Adi Parmadi

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar