Media Informasi Tenaga Pendamping Profesional Provinsi Bali

Selasa, 14 April 2026

Kolaborasi KPM dan Budaya Bali Perkuat Penanganan Stunting Berbasis eHDW


Upaya percepatan penanganan stunting di tingkat desa melalui kolaborasi antara Kader Pembangunan Manusia (KPM) dengan sistem pemantauan berbasis aplikasi eHDW (electronic Human Development Worker) dan kearifan lokal bali,  merupakan perpaduan harmonis mengawal kehidupan manusia mulai dari dalam kandungan.

Di lapangan, KPM berperan aktif melakukan pendataan, pemantauan, sekaligus edukasi kepada sasaran prioritas, mulai dari ibu hamil hingga balita usia 59 bulan. Setiap perkembangan dicatat dalam aplikasi eHDW, yang kemudian dipantau secara berjenjang oleh admin di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Dengan sistem ini, tidak hanya memastikan data lebih akurat, tetapi juga mempercepat intervensi ketika ditemukan risiko stunting.

Pelaksanaan kegiatan ini berlangsung di tingkat desa sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat, dengan dukungan penuh sistem digital yang terintegrasi lintas wilayah. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan, mengikuti tahapan penting dalam siklus kehidupan masyarakat Bali yang terangkum dalam rangkaian upacara Manusa Yadnya.

Pada masa kehamilan, tepatnya usia 5 hingga 7 bulan, masyarakat Bali melaksanakan upacara magedong-gedongan. Momentum ini dimanfaatkan KPM untuk memastikan ibu hamil telah terdata, mendapatkan asupan gizi yang cukup, serta rutin memeriksakan kehamilannya ke fasilitas kesehatan.

Memasuki fase kelahiran hingga 12 hari pertama, yang dikenal dengan kepus puser dan tutug kambuhan, KPM melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi bayi, termasuk berat badan lahir, pelaksanaan inisiasi menyusu dini (IMD), serta pemberian ASI eksklusif.  Selanjutnya, pada usia 42 hari melalui upacara ngelepas hawon, KPM kembali menguatkan edukasi kepada keluarga terkait pola asuh dan pemenuhan gizi bayi. Pemantauan berlanjut saat bayi memasuki usia tiga bulan Bali atau 105 hari melalui upacara tiga bulanan, di mana pengukuran tumbuh kembang dilakukan untuk mendeteksi dini potensi stunting. Puncaknya, saat bayi berusia 6 bulan atau 210 hari yang ditandai dengan otonan pertama, KPM melakukan evaluasi status gizi sekaligus mendampingi keluarga dalam pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat. Seluruh proses ini tercatat dalam eHDW dan dapat dipantau secara real time oleh berbagai tingkatan, sehingga langkah penanganan dapat segera dilakukan jika ditemukan indikasi risiko.

Skor Konvergensi stunting Desa melalui dashboard eHDW pertgl 14 april 2026 atas pendataan yang dilakukan oleh KPM, dapat dilakukan pemantauan oleh TPP melalui admin kecamatan, kabupaten dan provinsi , dimana nilai konvergensi stunting tingkat provinsi bali  mencapai 85,39% dengan capaian tertinggi ada di desa Mundeh kauh kecamatan Selemadeg barat kabupaten tabanan.

Pendekatan ini menjadi bukti bahwa penanganan stunting tidak hanya soal intervensi kesehatan, tetapi juga tentang bagaimana mengintegrasikan budaya sebagai kekuatan sosial. Dengan menggabungkan peran KPM, dukungan sistem eHDW, serta nilai-nilai luhur upacara manusa yadnya dalam tradisi Hindu Bali 

Penulis
Adi Parmadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DPMD Kab Buleleng gelar Sosialisasi/ Bimtek eHDW, Fokus Percepatan Data Konvergensi Stunting

Dinas PMD kabupaten Buleleng  bersama Tenaga Pendamping Profesional (TPP) menggelar sosialisasi dan bimbingan teknis (bimtek) aplikasi eHDW ...