Media Informasi Tenaga Pendamping Profesional Provinsi Bali

Minggu, 19 Juli 2026

Sampai Kapan Bali Itu Ada?


Banyak orang mengira Bali menjadi destinasi dunia karena pantainya yang indah atau alamnya yang memesona. Padahal bukan itu kekuatan utamanya. Alam Bali memiliki jiwa. Dan jiwa itu adalah budaya Bali.

Budaya Bali berdiri di atas tiga pilar utama, yaitu:

-         Pertama, jiwanya adalah Agama Hindu

-         Kedua, pijakan budayanya adalah tanah Bali

-         Ketiga, penjaga sekaligus pelakunya adalah manusia Bali

Hari ini, ketiga pilar tersebut sedang menghadapi tantangan.

Fenomena pertama adalah alih fungsi lahan yang berlangsung begitu cepat. Tanah yang selama ini menjadi ruang hidup budaya perlahan berubah fungsi. Padahal tanpa ruang budaya, warisan leluhur akan kehilangan tempat untuk tumbuh dan diwariskan.

Fenomena kedua adalah belum optimalnya penghargaan kepada manusia Bali sebagai penjaga budaya.

Ketika masyarakat Bali melaksanakan hari raya, ngayah, dan berbagai upacara adat, sering kali hal itu dipandang hanya sebagai "hari libur". Padahal sesungguhnya itu bukan sekadar libur. Itu adalah investasi budaya.

Orang Bali mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan biaya untuk menjaga tradisi yang selama ratusan tahun menjadi identitas Pulau Bali. Apa yang mereka lakukan bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga menjaga daya tarik Bali yang dinikmati oleh dunia. Karena sesungguhnya, wisatawan datang ke Bali bukan hanya melihat pantai atau gunung. Banyak tempat di dunia memiliki keindahan alam yang serupa.

Yang membuat Bali berbeda adalah budayanya. Alam Bali menjadi istimewa karena memiliki jiwa, dan jiwa itu hidup melalui masyarakat Bali yang terus menjalankan nilai-nilai Agama Hindu, adat, seni, dan tradisi.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita memandang waktu yang digunakan masyarakat Bali untuk menjalankan kewajiban adat dan keagamaan sebagai investasi budaya, bukan sekadar hari libur yang seharusnya dihargai dari persepektif ekonomi, Investasi inilah yang menjaga Bali tetap memiliki identitas, martabat, dan daya saing di mata dunia.

Jika tanah Bali terus kehilangan fungsinya sebagai pijakan budaya , manusia Bali tidak lagi dihargai sebagai penjaga budaya, dan pemahaman terhadap ajaran Hindu semakin timpang antara Upacara, Tatwa dan Susila  maka bali akan kehilangan jiwanya.

Bali akan tetap hidup ada  jika tiga pilarnya tetap kokoh: Agama Hindu yang dipahami secara utuh sehingga menjadi jiwa dari budaya, tanah yang dijaga sebagai ruang budaya, dan manusia Bali yang dihormati dan dihargai  sebagai penjaga peradaban. Menjaga budaya adalah investasi untuk masa depan Bali.

Menjaga kedaulatan budaya Bali menjadi pekerjaan rumah dari pemimpin Bali, bukan melalui seremonial, pementasan tetapi menjadikan orang bali sebagai manusia Tri Hita Karana, bahagia  karena bisa hidup harmonis dengan Tuhan dan lingkungannya. 


kadek Suardika
Korprop Bali


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sampai Kapan Bali Itu Ada?

Banyak orang mengira Bali menjadi destinasi dunia karena pantainya yang indah atau alamnya yang memesona. Padahal bukan itu kekuatan utamany...